Bicara soal doa, rasanya mayoritas sepakat bahwa doa merupakan salah satu cara untuk seorang hamba mencoba mengomunikasikan harapan kepada Tuhannya. Makin besar harapan, semakin serius pula keinginannya untuk mengetuk langit yang bahkan tidak terbayang bagaimana bentuk pintunya. Tapi, betulkah doa yang berhasil dilangitkan menjadi pertimbangan Tuhan untuk merealisasikan suatu kejadian? Berangkat dari keresahan soal arti doa keluar rumah yang dulu sempat membuat saya memilih untuk menambahkan permohonan keselamatan hingga sampai ke tempat tujuan secara gamblang dengan bahasa ibu saya. Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, laa haula walaa quwwata illaa billah. Artinya: Dengan nama Allah, aku bertawakal (pasrah) kepada Allah. Tidak ada daya dan upaya selain dari kekuatan Allah. Kenapa tidak langsung saja minta diberikan keselamatan sampai ke tujuan hingga pulang kembali ke rumah? Atau kalau di perjalanan membawa harta, mohon agar tidak sampai berpapasan dengan tukang begal? Dan macam-maca...
Perpisahan dan pertemuan pertama yang dialami setiap manusia adalah hari ketika ia harus pergi dari dunia nyaman, yang hanya ada ia di dalamnya, yang dikelilingi dekapan hangat dan cinta, yang selalu diiringi harapan serta doa. Dunia itu adalah rahim sang ibu. Hari di mana ia harus berpisah dengan saudara kembar ari-ari-nya, sekaligus berjumpa dengan orang-orang yang selama ini mengharapkan kehadirannya, yakni keluarganya. Atau kalimatnya bisa diubah menjadi seperti ini: ia harus berpisah dengan saudaranya agar ia bisa berjumpa dengan orang tuanya. Kurang lebih, begitulah gambaran keterkaitan antara pisah dan temu. Kisah kali ini, datang dari seseorang yang sangat bahagia saat saya menuliskan kisahnya. Bahkan ketika saya mengunggah tulisan ini, ia sedang berlagak menjadi seorang ratu sehari. Mungkin ia sedang dirias, dipakaikan pakaian yang indah, serta dipandang dengan mata berkaca-kaca oleh orang-orang yang dicintainya. Hari ini adalah hari bahagia baginya, puncak saat pisah dan te...