Skip to main content

IMAN: Indera Keenam Manusia

Seperti yang diketahui, manusia memiliki lima buah indera lahiriyah yang akrab disebut panca indera. Maka indera keenam sudahlah pasti menjadi sebuah anugerah yang bisa jadi tidak dimiliki oleh setiap umat manusia. Sering kali orang-orang yang mengaku memiliki indera tambahan muncul di media penyiaran. Ada yang mengaku mampu melihat makhluk halus sampai menerawang masa depan. Ada pula yang mengatakan bisa berkomunikasi dengan makhluk di “dunia seberang” hingga makhluk di seberang planet, sekalipun fakta kehidupan di luar bumi masih tertutup kabut misteri.

Satu hal yang belum disadari oleh banyak orang di muka bumi. Bahwa sesungguhnya setiap manusia memiliki organ indera keenam, yakni hati. Bukan organ dalam yang terdaftar dalam susunan anatomi manusia. Namun hati, sebagai indera pengecap segala macam rasa yang tak mampu dirasakan oleh lidah, indera penglihatan segala macam hal yang tak bisa dilihat oleh mata, indera penciuman segala bau yang tak mampu dicium oleh hidung, indera pendengaran segala suara yang tak dapat didengar oleh telinga, dan indera peraba segala macam tekstur yang tak mampu disentuh oleh permukaan kulit. Bukan indigo, bukan pula mendapat mimpi yang tak jelas asal muasalnya. Semua ini sebab manusia pada dasarnya memiliki sebuah ruang kecil yang dipersiapkan untuk menjadi indera keenam, yakni indera keimanan.

Manusia bisa melihat, mendengar, mencium, mengecap, dan meraba setiap benda lahiriyah di muka bumi dengan bantuan kelima indera yang ada. Bahkan saat ini, benda-benda lahiriyah di luar bumi bisa dilihat dengan bantuan teknologi. Sayangnya belum ada teknologi buatan manusia yang bisa membantu untuk mengetahui hal-hal gaib. Hal-hal itu saat ini masih dipegang oleh segelintir orang yang dipercayai memiliki kemampuan indigo, kemampuan abu-abu, yang masih belum bisa dipastikan secara ilmiah.

Meski tak ilmiah, keberadaan orang-orang indigo masih bertahan bahkan sampai teknologi manusia sudah mampu menjelalah keluar tata surya dan menyelam ke dasar Palung Mariana. Mengapa? Karena hati lah yang bermain di sana. Manusia merasa frustasi saat tak mampu mendapat jawaban atas rasa penasarannya. Sehingga ketika ada orang yang mengaku memiliki enam indera datang menjelaskan, lantas hatinya berusaha membenarkan sekalipun logikanya masih belum sepenuhnya percaya.

Maka di sinilah letak kelebihan orang-orang beriman. Bagi umat Islam yang dianugerahi rahmat seluruh alam semesta, semua itu bukanlah masalah. Sebuah tutorial hidup, ensiklopedia dunia baik nyata maupun gaib, sampai sejarah dan masa depan dunia, sudah tersedia dalam sepaket kitab. Hati bukan sekadar tempat untuk merasakan hal-hal yang non lahiriyah saja. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan hati sebagai indera keimanan.

Mereka akan menjalani kehidupannya dengan baik dan teratur sebagaimana yang diperintahkan dalam buku panduan hidupnya dan mencontoh seorang tutor tanpa cela: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam. Mempercayai eksistensi kehidupan gaib tanpa berusaha menyenggol perbatasan kedua dunia. Mengetahui bahwa nasib masa depan hidupnya setelah mati berada di tangannya sendiri sehingga ia akan menjalani kehidupannya dengan sebaik-baiknya. Begitulah kurang lebih ciri khas orang-orang yang memiliki indera keenam: iman.

Comments

Popular posts from this blog

Bidadari Surga: Cintanya adalah Guru Kehidupannya

Cinta, sebuah kata dengan beribu keambiguan. Maka cinta juga akan memiliki beribu makna tiap kali ia diungkapkan. Menurut Wikipedia, cinta adalah suatu emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Cinta juga dapat diartikan sebagai suatu perasaan dalam diri seseorang akibat faktor pembentuknya. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apa pun yang diinginkan objek tersebut. Definisi sederhana di atas akan menjadi pagar untuk memaknai cinta dalam tulisan ini sehingga akan memudahkan untuk menelaah sebuah kisah yang akan dibawa dalam ruang baca kali ini. Ini adalah sebuah kisah dari seorang wanita tegar, dengan latar belakang keluarga yang membuatnya tidak bisa mengenal deng...

[BIDADARI SURGA] Pisah dan Temu: Antonim yang Kait Mengait

Perpisahan dan pertemuan pertama yang dialami setiap manusia adalah hari ketika ia harus pergi dari dunia nyaman, yang hanya ada ia di dalamnya, yang dikelilingi dekapan hangat dan cinta, yang selalu diiringi harapan serta doa. Dunia itu adalah rahim sang ibu. Hari di mana ia harus berpisah dengan saudara kembar ari-ari-nya, sekaligus berjumpa dengan orang-orang yang selama ini mengharapkan kehadirannya, yakni keluarganya. Atau kalimatnya bisa diubah menjadi seperti ini: ia harus berpisah dengan saudaranya agar ia bisa berjumpa dengan orang tuanya. Kurang lebih, begitulah gambaran keterkaitan antara pisah dan temu. Kisah kali ini, datang dari seseorang yang sangat bahagia saat saya menuliskan kisahnya. Bahkan ketika saya mengunggah tulisan ini, ia sedang berlagak menjadi seorang ratu sehari. Mungkin ia sedang dirias, dipakaikan pakaian yang indah, serta dipandang dengan mata berkaca-kaca oleh orang-orang yang dicintainya. Hari ini adalah hari bahagia baginya, puncak saat pisah dan te...

GURU NGAJI MAU DIGAJI? Ujian Berwujud Angin Segar

Sejak kecil, sebagian besar masyarakat muslim di Indonesia sudah mengenal Ustadz atau Ustadzah sebagai guru kedua setelah orang tuanya, sebelum masuk ke sekolah dasar. Orang tua menggantungkan harapan besar ketika menitipkan anak kesayangannya kepada para pengajar ini agar mereka setidaknya tidak buta huruf terhadap petunjuk hidup dari penciptanya. Tentu saja harapan lainnya yang lebih besar adalah agar anaknya bisa memiliki akhlak baik seperti seharusnya diajarkan dalam agama. Sejak dulu pula, sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat bahwa profesi ini bisa dibilang merupakan profesi “akhirat oriented ”. Upah yang diterima tidak cukup untuk memenuhi hasrat bermewah-mewahnya. Sekadar mencukupi kebutuhan harian saja sudah memuaskan hatinya ketika mengingat tabungan di akhir hayat sedang ia kumpulkan setiap harinya. Untuk menampung hasil kesadaran para orang tua terhadap pendidikan rohani anak yang kian meningkat, sebagian besar tenaga pendidik ini mulai membentuk suatu lem...