Bicara soal doa, rasanya mayoritas sepakat bahwa doa merupakan salah satu cara untuk seorang hamba mencoba mengomunikasikan harapan kepada Tuhannya. Makin besar harapan, semakin serius pula keinginannya untuk mengetuk langit yang bahkan tidak terbayang bagaimana bentuk pintunya. Tapi, betulkah doa yang berhasil dilangitkan menjadi pertimbangan Tuhan untuk merealisasikan suatu kejadian?
Berangkat dari keresahan soal arti doa keluar rumah yang dulu sempat membuat saya memilih untuk menambahkan permohonan keselamatan hingga sampai ke tempat tujuan secara gamblang dengan bahasa ibu saya.
Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, laa haula walaa quwwata illaa billah.
Artinya: Dengan nama Allah, aku bertawakal (pasrah) kepada Allah. Tidak ada daya dan upaya selain dari kekuatan Allah.
Kenapa tidak langsung saja minta diberikan keselamatan sampai ke tujuan hingga pulang kembali ke rumah? Atau kalau di perjalanan membawa harta, mohon agar tidak sampai berpapasan dengan tukang begal? Dan macam-macam doa konkret lainnya. Bukankah Tuhan Maha Mengerti semua bahasa dan Maha Mengabulkan segala doa?
Belum lagi saat bertemu dengan materi takdir, yang mengatakan bahwa manusia memainkan peran dalam hidupnya berdasarkan skenario yang sudah dituliskan Tuhan. Bahwa sekeras apapun manusia berusaha, dia tidak akan mendapatkan hal itu kalau memang bukan bagiannya. Hingga overthinking sendiri dengan kalimat orang tua: kalau rezeki, nggak kemana. Lah terus untuk apa berdoa?
Pertanyaan ini bertahan hingga saya dewasa–atau setidaknya ketika saya telah mampu memaknai secara lebih luas soal doa keluar rumah ini, maupun doa-doa lainnya.
Mengutip KH. M. Luqman Hakim dari laman nu.or.id, bahwa doa merupakan wujud penghambaan seseorang kepada Allah. Maka, kegembiraan harusnya bukan terletak pada saat dikabulkannya doa, melainkan rasa syukur karena masih bisa berdoa.
Terkait dengan doa keluar rumah tadi, maka masuk akal apabila sebelum meninggalkan rumah doanya berbunyi demikian: mengonfirmasi bahwa kita pasrah pada apapun yang akan terjadi di jalanan, karena segala kekuatan memang milik-Nya. Soal jika terjadi apa-apa di jalan, bukan doanya tidak terkabul, tapi memang sudah tertulis dalam buku takdir. Selanjutnya, seperti kata Kiai Luqman, kebahagiaannya adalah ketika seorang hamba masih ingat untuk berdoa pada saat “terjadi apa-apa di jalan”.
Ini baru lingkup sekecil doa keluar rumah. Jika diperluas, sepertinya cakupannya malah bisa menyerempet ke Surat Al-Baqarah ayat 153 tentang perintah menjadikan sabar dan salat sebagai penolong. Lah kok bisa?
Suatu saat saya berdoa dengan bahasa ibu. Permohonan itu dilangitkan dengan lugas dan tanpa bertele-tele, tapi tetap tidak menghilangkan rukunnya seperti mengucap pujian terlebih dahulu sebagai pembukanya. Tapi, kenyataan bahwa saya tidak bisa mengintip lembaran takdir yang telah disahkan sejak lama, membuat diri digelayuti ketakutan yang akan semakin besar seiring meningkatnya intensitas memikirkannya. Satu-satunya yang bisa dilakukan ya, berdoa. Minimal, dengan berdoa saya merasa bahwa saya tidak sendiri. Jika permohonan tersebut terkabul, alhamdulillah. Kalau tidak, ya, sabar. Mungkin, ini belum saatnya, atau memang ini jalan terbaik, atau memang inilah nasib yang tertulis di buku takdir.
-Aping, 10 Mei 2024
Comments
Post a Comment