Skip to main content

BIDADARI SURGA: Hati untuk Cinta Abadi

Bicara mengenai hati, maka tak akan pernah menemui akhir. Di sana, di tempat yang kecil itu, akan ada beribu-ribu rasa. Tempat paling pribadi bagi setiap manusia. Tempat paling mudah merasakan sesuatu. Namun juga tempat paling berbahaya sebab kepekaannya.

Menyukai, membenci, mencurigai, mengiba. Semua itu dapat dirasakan sebab manusia memiliki sebuah hati. Perasaan positif hingga negatif mampu diserap oleh salah satu organ dalam manusia yang bisa dibilang spesial sebab keambiguan yang dimilikinya. Maka dalam tulisan ini, akan membawa sebuah kisah mengenai seseorang yang menjaga hatinya dari ketidaksiapannya menghadapi “arus rasa” dengan kekuatan air mata dalam doa.

Ia hanyalah seorang gadis biasa, dengan rutinitas luar biasa. Ia bukan berasal dari keluarga kaya, tak juga dari keluarga ulama. Ia hanyalah orang awam yang tetap penasaran dengan rahasia hati manusia.

Suatu saat, keadaan terasa seperti krisis baginya. Di saat menginjak usia yang boleh jadi tepat untuk memulai sebuah perubahan besar dalam hidupnya. Di mana teman-temannya sudah mulai beranjak dari status lamanya, dipinang maupun meminang. Ketika semakin banyak anjuran serta dorongan untuk mulai melakukan perubahan. Bahkan ketika ada seseorang yang datang untuk sekadar menanyakan perihal kesiapan untuk menuju jenjang pernikahan. Mendadak ia dihadapkan pada pertimbangan-pertimbangan,

Di titik tersendirinya, ia merasakan kesepian yang teramat sangat. Padahal ia dikelilingi oleh keluarga, kerabat, dan teman-temannya. Rasa sepi itu kemudian mendorong suatu keinginan yang memang sudah ia siapkan sebagai seorang wanita, sebagai seorang muslim, dan sebagai seorang manusia. “Ah, sepertinya aku siap,” ujarnya. Pikirannya kembali, ia berpikir untuk mulai melangkah dengan serius. Naik satu anak tangga menuju babak kehidupan yang baru.

Akan tetapi, pertimbangan lainnya hadir. Setelah dipikir berulang kali, barulah ia sadar bahwa ia tak sendiri. Ia baru menyadari bahwa masih ada orang-orang di sekitarnya, yang masih harus ia bahagiakan dengan tangannya sendiri. Ia khawatir bahwa ia tak bisa lagi meraih senyum keluarganya jika ia berangkat ke rumah yang baru. “Hah, nanti saja, lah.” Dan ia tersadar bahwa ia hanya kembali ke garis awalnya.

Berulang kali, ia hanya berlari mengitari lintasan yang berputar. Ia melalui perjalanan yang sangat panjang meskipun jaraknya sangat dekat, yakni perjalanan dari hati menuju pikiran. Ia seperti terjebak dalam sebuah rumus menyamakan logika dan perasaan.

Hingga suatu saat ia jatuh terduduk di satu titik, di sepertiga malamnya, di atas sajadahnya, dalam kegalauan yang tak mampu ia atasi seorang diri namun tak bisa ia ungkapkan ke orang lain. Ia memohon agar selama ia belum siap, selama ia masih belum mengenal baik dirinya, selama ia belum benar-benar menyelesaikan urusan dengan dirinya sendiri, ia tak ingin hatinya terisi oleh yang lain. Dalam tangisnya, ia meminta agar jangan ada cinta yang lain selain kecintaannya pada Sang Pemilik Hati, Sang Pemilik Hidup, Sang Pemilik alam dan seisinya. Ia ingin hatinya hanya untuk cinta abadi.

Comments

Popular posts from this blog

Bidadari Surga: Cintanya adalah Guru Kehidupannya

Cinta, sebuah kata dengan beribu keambiguan. Maka cinta juga akan memiliki beribu makna tiap kali ia diungkapkan. Menurut Wikipedia, cinta adalah suatu emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Cinta juga dapat diartikan sebagai suatu perasaan dalam diri seseorang akibat faktor pembentuknya. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apa pun yang diinginkan objek tersebut. Definisi sederhana di atas akan menjadi pagar untuk memaknai cinta dalam tulisan ini sehingga akan memudahkan untuk menelaah sebuah kisah yang akan dibawa dalam ruang baca kali ini. Ini adalah sebuah kisah dari seorang wanita tegar, dengan latar belakang keluarga yang membuatnya tidak bisa mengenal deng...

[BIDADARI SURGA] Pisah dan Temu: Antonim yang Kait Mengait

Perpisahan dan pertemuan pertama yang dialami setiap manusia adalah hari ketika ia harus pergi dari dunia nyaman, yang hanya ada ia di dalamnya, yang dikelilingi dekapan hangat dan cinta, yang selalu diiringi harapan serta doa. Dunia itu adalah rahim sang ibu. Hari di mana ia harus berpisah dengan saudara kembar ari-ari-nya, sekaligus berjumpa dengan orang-orang yang selama ini mengharapkan kehadirannya, yakni keluarganya. Atau kalimatnya bisa diubah menjadi seperti ini: ia harus berpisah dengan saudaranya agar ia bisa berjumpa dengan orang tuanya. Kurang lebih, begitulah gambaran keterkaitan antara pisah dan temu. Kisah kali ini, datang dari seseorang yang sangat bahagia saat saya menuliskan kisahnya. Bahkan ketika saya mengunggah tulisan ini, ia sedang berlagak menjadi seorang ratu sehari. Mungkin ia sedang dirias, dipakaikan pakaian yang indah, serta dipandang dengan mata berkaca-kaca oleh orang-orang yang dicintainya. Hari ini adalah hari bahagia baginya, puncak saat pisah dan te...

GURU NGAJI MAU DIGAJI? Ujian Berwujud Angin Segar

Sejak kecil, sebagian besar masyarakat muslim di Indonesia sudah mengenal Ustadz atau Ustadzah sebagai guru kedua setelah orang tuanya, sebelum masuk ke sekolah dasar. Orang tua menggantungkan harapan besar ketika menitipkan anak kesayangannya kepada para pengajar ini agar mereka setidaknya tidak buta huruf terhadap petunjuk hidup dari penciptanya. Tentu saja harapan lainnya yang lebih besar adalah agar anaknya bisa memiliki akhlak baik seperti seharusnya diajarkan dalam agama. Sejak dulu pula, sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat bahwa profesi ini bisa dibilang merupakan profesi “akhirat oriented ”. Upah yang diterima tidak cukup untuk memenuhi hasrat bermewah-mewahnya. Sekadar mencukupi kebutuhan harian saja sudah memuaskan hatinya ketika mengingat tabungan di akhir hayat sedang ia kumpulkan setiap harinya. Untuk menampung hasil kesadaran para orang tua terhadap pendidikan rohani anak yang kian meningkat, sebagian besar tenaga pendidik ini mulai membentuk suatu lem...