Bicara mengenai hati, maka tak akan pernah menemui akhir. Di sana, di tempat yang kecil itu, akan ada beribu-ribu rasa. Tempat paling pribadi bagi setiap manusia. Tempat paling mudah merasakan sesuatu. Namun juga tempat paling berbahaya sebab kepekaannya.
Ia hanyalah seorang gadis biasa, dengan rutinitas luar
biasa. Ia bukan berasal dari keluarga kaya, tak juga dari keluarga ulama. Ia
hanyalah orang awam yang tetap penasaran dengan rahasia hati manusia.
Suatu saat, keadaan terasa seperti krisis baginya.
Di saat menginjak usia yang boleh jadi tepat untuk memulai sebuah perubahan
besar dalam hidupnya. Di mana teman-temannya sudah mulai beranjak dari status
lamanya, dipinang maupun meminang. Ketika semakin banyak anjuran serta dorongan
untuk mulai melakukan perubahan. Bahkan ketika ada seseorang yang datang untuk
sekadar menanyakan perihal kesiapan untuk menuju jenjang pernikahan. Mendadak
ia dihadapkan pada pertimbangan-pertimbangan,
Di titik tersendirinya, ia
merasakan kesepian yang teramat sangat. Padahal ia dikelilingi oleh keluarga,
kerabat, dan teman-temannya. Rasa sepi itu kemudian mendorong suatu keinginan
yang memang sudah ia siapkan sebagai seorang wanita, sebagai seorang muslim,
dan sebagai seorang manusia. “Ah, sepertinya aku siap,” ujarnya. Pikirannya
kembali, ia berpikir untuk mulai melangkah dengan serius. Naik satu anak tangga
menuju babak kehidupan yang baru.
Akan tetapi, pertimbangan
lainnya hadir. Setelah dipikir berulang kali, barulah ia sadar bahwa ia tak
sendiri. Ia baru menyadari bahwa masih ada orang-orang di sekitarnya, yang
masih harus ia bahagiakan dengan tangannya sendiri. Ia khawatir bahwa ia tak
bisa lagi meraih senyum keluarganya jika ia berangkat ke rumah yang baru. “Hah,
nanti saja, lah.” Dan ia tersadar bahwa ia hanya kembali ke garis awalnya.
Berulang kali, ia hanya berlari
mengitari lintasan yang berputar. Ia melalui perjalanan yang sangat panjang
meskipun jaraknya sangat dekat, yakni perjalanan dari hati menuju pikiran. Ia
seperti terjebak dalam sebuah rumus menyamakan logika dan perasaan.
Hingga suatu saat ia jatuh
terduduk di satu titik, di sepertiga malamnya, di atas sajadahnya, dalam
kegalauan yang tak mampu ia atasi seorang diri namun tak bisa ia ungkapkan ke
orang lain. Ia memohon agar selama ia belum siap, selama ia masih belum
mengenal baik dirinya, selama ia belum benar-benar menyelesaikan urusan dengan
dirinya sendiri, ia tak ingin hatinya terisi oleh yang lain. Dalam tangisnya,
ia meminta agar jangan ada cinta yang lain selain kecintaannya pada Sang
Pemilik Hati, Sang Pemilik Hidup, Sang Pemilik alam dan seisinya. Ia ingin
hatinya hanya untuk cinta abadi.
Comments
Post a Comment