Sebelum dunia mengenal kata israel, sumber kitab suci telah menyebutkan
Bani Israil. Mereka adalah orang-orang yang berasal dari garis keturunan Nabi
Ibrahim ‘alaihissalam dari jalur Nabi Ishak ‘alaihissalam, yakni keturunan dari
Nabi Ya’qub ‘alaihissalam atau juga dikenal dengan sebutan Israil. Ya’qub
‘alaihissalam mempunyai dua belas anak yang menjadi cikal bakal dua belas
kabilah besar Bani Israil. Kaum ini pada masa itu diberikan karunia yang luar
biasa sebab banyaknya nabi yang berasal dari garis keturunan Ishak
‘alaihissalam bin Ibrahim ‘alaihissalam. Bahkan beberapa menjadi nabi sekaligus
raja seperti Dawud ‘alaihissalam dan Sulaiman ‘alaihissalam.
Al-Qur’anul Karim mencatat sejarah sepak terjang Bani Israil dalam
menghadapi kehidupan yang berat. Mulai dari perbudakan berkepanjangan oleh
Fir’aun di Mesir, yang kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan mereka
melalui Nabi Musa ‘alaihissalam. Dilansir dari islam.nu.or.id, beberapa kali bangsa
ini hidup di bawah penindasan dan perbudakan bangsa-bangsa lain seperti bangsa
Palestina, bangsa Asyur, Babilonia, Yunani, hingga Romawi. Kemudian, setelah
terusir dari Palestina, suku ini terlunta-lunta dan menyebar ke penjuru dunia.
Bahkan penderitaan terus terjadi hingga ke zaman modern, dalam kurun tahun
1933-1945 Masehi, sekitar enam juta keturunan Bani Israil ini diberantas oleh
Hitler—penguasa Jerman pada masa itu.
Selain dikaruniai banyaknya nabi, Bani Israil juga dikaruniai kelebihan
lain yang tidak dimiliki oleh bangsa lain di muka bumi, yakni kecerdasan serta
kemampuan berpikir yang maju. Dilansir dari darunnajah.com, setelah Bani Israil
hijrah dan menetap di Mesir, mereka dimanfaatkan bahkan hingga diperbudak oleh
Fir’aun untuk membangun peradaban Mesir dengan monumen-monumen megah yang
bahkan masih berdiri hingga saat ini. Di zaman modern, banyak orang-orang Bani
Israil yang menjadi pebisnis dan akuntan di Jerman yang kemudian menjadi salah
satu faktor terjadinya Holocaust oleh pemerintahan Nazi. Bahkan saat ini,
intelijen Israel menjadi unit intelijen paling elit di dunia.
Sayangnya, kecerdasan itu tidak diimbangi dengan iman kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Hati mereka diliputi kesombongan dan kedengkian. Beberapa
kali mereka diselamatkan dari penderitaan, namun setelah itu mereka lupa diri.
Mereka mengingkari bahkan membunuh nabi-nabi yang diutus kepada mereka. Namun,
mereka masih punya nyali untuk menyatakan bahwa kaum mereka adalah kaum
istimewa di dunia. Mereka dengki ketika dikabarkan bahwa nabi terakhir akan
datang dari keturunan Ismail ‘alaihissalam sebab menurutnya kaum Israil adalah
kaum yang berhak memiliki keturunan nabi. Mereka ngotot bahwa Tanah Palestina
adalah tanah yang dijanjikan untuk mereka. Bahkan secara nyata media menyiarkan
bahwa dengan tidak tahu malunya Israel membangun pemukiman penduduk di wilayah
Palestina yang mereka rebut, sekalipun komunitas internasional menganggap
perbuatan mereka ilegal.
Lalu, bagaimana bisa Israel masih melenggang saat komunitas dunia
mengecam perbuatan ilegalnya?
Sekalipun mayoritas penduduk dunia mengutuk perbuatan keji mereka, nyatanya
kekuatan terbesar dunia berada di belakang Israel dan senantiasa memberikan
dukungan. Negara adidaya, Negeri Paman Sam, sudah seperti ayah angkat bangsa
ini. Mendukung, menyokong, bahkan mengklaim tanah Palestina untuk diberikan
kepada anak angkatnya itu. Kenapa? Apa hubungan menguntungkan yang diberikan
oleh Israel ke AS?
Dilansir dari Kompas.com, seorang analis Timur Tengah di Israel Policy
Forum Michael Koplow mengatakan pada Business Insider bahwa kedekatan AS dengan
Israel sangat terikat dengan dua faktor, yakni faktor pertukaran data inteligen
dan faktor persamaan ideologi.
Elit inteligen Israel memegang informasi tentang Timur Tengah yang tidak
tertandingi oleh negara manapun, dan hal itu sangat menguntungkan AS untuk
berbagai hal. Selain itu, AS dan Israel telah membentuk beberapa kerja sama,
seperti pada 2010 mereka berhasil menyusupkan malware ke infrastruktur siber Iran dan memperlambat kemajuan
senjata nuklirnya, serta membangun sistem pertahanan rudal.
Faktor kedua, merupakan persamaan ideologi. Israel merupakan suatu
persatuan orang Yahudi yang berideologi paling liberal di Timur Tengah. Keduanya
merasa bahwa mereka terikat dengan sesuatu yang amat fundamental. Maka tak
heran jika Israel menjadi sekutu ideologis yang penting bagi AS.
Jika dilihat dari track record-nya,
AS ibarat nabi-nabi terdahulu yang menyelamatkan kaum ini. Namun, seperti yang diyakini
oleh umat Islam bahwa kekalahan telah dijanjikan untuk umat Yahudi. Sebagaimana
dalam Qur’an Surah Al-Isra’ ayat 4-7 yang artinya:
“Dan
Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu, “Kamu pasti akan berbuat
kerusakan di Bumi in dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan
kesombongan yang besar. Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang
pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami
yang perkasa, lalu mereka merajalela di kampung-kampung. Dan itulah ketetapan
yang pasti terlaksana. Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan
mereka, Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan
kamu kelompok yang lebih besar. Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat
baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian
kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. Apabila datang saat hukuman (kejahatan)
yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu lalu mereka
masuk ke dalam masjid (Masjidil Aqsha), sebagaimana ketika mereka memasukinya
pertama kali dan mereka membinasakan apa saja yang mereka kuasai.”
Usut punya usut, Zionis
yang saat ini sedang sibuk mencaplok tanah Palestina dengan alasan mengambil
kembali hak warisan nenek moyangnya bukanlah keturunan Bani Israil dari Tanah
Kanaan. Dilansir dari islam.nu.or.id, ada dua teori yang menjelaskan dua kemungkinan
siapakah Israel zaman now sebenarnya.
Pertama teori Rhineland, yang menyatakan bahwa Yahudi yang migrasi ke Eropa
terutama ke Polandia dan Jerman yang kemudian dibantai Hitler adalah keturunan
asli Timur Tengah. Sedangkan teori kedua yang dikemukakan oleh Eran Elhaik,
seorang akademisi dari Johns Hopkins University dalam risetnya yang dimuat
dalam Jurnal Genome Biology and Evolution terbitan Oxford yang berjudul “The
Missing Link of Jewish European Ancestry: Contrasting the Rhineland and the
Khazarian Hypotheses.” Riset Elhaik menyatakan bahwa Yahudi Eropa adalah bangsa
Khazar—konfederasi suku Slavia, Scythian, Hunnic-Bulgaria, Iran, Alans, dan
Turki—yang memeluk Yudaisme. Merekalah yang dibantai Hitler, serta sebab
memeluk Yudaisme, mereka merasa memiliki hak di tanah Palestina.
Jika teori kedua
benar, maka Israel saat ini bukanlah keturunan salah satu dari dua belas
kabilah besar kaum Yahudi. Mereka hanyalah sekelompok orang yang bersatu sebab
memeluk kepercayaan. Lantas, masih adakah hak untuk berkoar mengklaim Palestina
sebagai tanah leluhurnya?
Comments
Post a Comment