Skip to main content

Ketika Dunia Tumbuh Bersama COVID-19

Sejak akhir tahun 2019, dunia dikejutkan oleh kehadiran suatu spesies kehidupan baru sebab menimbulkan beberapa kasus kematian. Meskipun masih belum jelas awal mula kelahirannya, kasus pertama infeksi dilaporkan di Kota Wuhan, China. Dengan segala kontroversi yang tetap melekat, penyebaran terus berlanjut hingga menjadi tragedi pandemi yang melanda dunia, yang kemudian hingga saat ini dikenal dengan nama Corona Virus Disease (COVID-19).

Pandemi yang sudah berlangsung lebih dari satu tahun ini membawa dampak yang luar biasa bagi tata kehidupan manusia. Seperti adanya pembatasan aktivitas demi menekan tingkat penularan, tersendatnya roda perekonomian dunia yang mengakibatkan banyaknya bisnis yang gulung tikar, hingga efek psikologis yang ditimbulkan mengakibatkan banyak orang yang melakukan berbagai hal dalam rangka bertahan hidup di tengah kondisi serba sulit.

Pemerintah kemudian berusaha memperbaiki tatanan yang sudah semrawut itu dengan berbagai cara. Seperti mengadakan fasilitas kesehatan, bantuan-bantuan sosial yang disalurkan untuk masyarakat yang terdampak, serta mengupayakan sistem tata kehidupan yang baru dan mengedukasikannya kepada masyarakat luas. Pemberlakuan tata kehidupan baru yang diberi judul New Normal mengharuskan adanya pembatasan di berbagai sektor. Seperti dunia pendidikan yang harus meliburkan kegiatan belajar tatap muka dan mengalihkan semua aktivitas siswa di rumah, berbagai pembatasan terhadap “keramaian” sektor ekonomi yang tak sedikit berdampak pada omset masing-masing pelaku usaha,  pembatasan kegiatan beribadah berjamaah, hingga pelarangan mudik yang telah menjadi tradisi masyarakat Indonesia di setiap tahunnya. Apabila pandemi terus berlanjut, maka pembatasan ini akan terus diberlakukan entah sampai beberapa tahun ke depan. Mau tidak mau, kondisi serba terbatas ini akan meninggalkan dampak pada kehidupan bermasyarakat di masa depan, bahkan setelah pandemi ini berakhir.

Pembatasan sosial yang diberlakukan dalam New Normal mengharuskan pelaksanaan berbagai kegiatan yang meminimalisir kontak langsung. Mulai dari kegiatan belajar mengajar, rapat kerja, hingga berbelanja. Semua kegiatan tersebut saat ini dialihkan ke dalam sebuah wadah virtual super besar yang memanfaatkan pengembangan dari teknologi komunikasi. Dikutip dari Liputan6.com mengenai prediksi kondisi dunia pasca pandemi COVID-19 versi Forbes, di mana saat itu teknologi akan berkembang amat pesat. Menguatnya sistem komunikasi yang memungkinkan berkurangnya aktivitas tatap muka serta hiruk pikuk layanan belanja sekaligus pembayarannya yang beralih menjadi berbagai layanan virtual adalah kondisi yang akan terjadi di masa depan. Internet akan menjadi arena untuk segala aktivitas kehidupan manusia mulai dari belajar, bekerja, hingga berolahraga. Bahkan diprediksi akan ada perkembangan berkelanjutan untuk Artificial Intelligence (AI) di beberapa lini aspek kehidupan dan bergantungnya bisnis manusia pada tenaga robot.

Selain perkembangan pesat pada aspek teknologi, keadaan yang terjadi saat ini juga dapat membawa pengaruh pada perspektif ekonomi. Saat ini banyak wilayah yang melakukan pembatasan kegiatan-kegiatan yang melibatkan kerumunan sebab dinilai bisa menekan tingkat penularan virus, namun kebijakan tersebut juga membawa dampak pada menurunnya omset para pelaku usaha sehingga tak sedikit menyebabkan terjadinya tragedi PHK maupun penurunan upah yang diterima oleh pekerja. Para pakar memprediksi bahwa cara negara dan masyarakat dalam memikul kesulitan yang saat ini tengah melanda dunia akan menjadi kebiasaan bahkan saat pandemi ini telah benar-benar berakhir. Dilansir dari suara.com, menurut Simon Mair dalam artikelnya yang berjudul ‘What Will the World Be Like After Coronavirus? Four Possible Futures’, ada empat kemungkinan kondisi ekonomi yang akan terjadi di masa depan, yakni turun ke barbarisme, kapitalisme oleh negara-negara kuat, sosialisme negara radikal, atau transformasi menjadi masyarakat besar yang dibangun di atas asas tolong-menolong.

Dalam skenario barbarisme, banyak bisnis yang gagal, pekerja yang kelaparan, serta rumah sakit yang kewalahan sebab tidak adanya mekanisme yang jelas. Hal ini terjadi sebab fokus utama negara adalah terus menggerakkan roda ekonomi tanpa memberikan dukungan pada pencegahan penularan virus. Segala aspek akan terlantar jika negara salah mengambil tindakan selama pandemi terjadi. Kegagalan ekonomi dan masyarakat yang berkelanjutan akan memicu kerusuhan politik dan sosial yang akhirnya akan menyebabkan runtuhnya sistem kesejahteraan negara dan masyarakat.

Skenario kedua adalah kapitalisme oleh negara-negara dengan kekuatan ekonomi yang stabil. Dalam skenario ini negara akan memberikan stimulus besar-besaran dengan memberikan kredit dan melakukan pembayaran langsung kepada pebisnis sehingga kegiatan ekonomi akan tetap berjalan. Cara ini mungkin akan berhasil jika saja pandemi terbukti dapat dikontrol dalam waktu dekat, sebab dalam skenario ini negara harus menghindari lockdown demi mempertahankan fungsi pasar. Akibatnya, kemungkinan penularan virus masih akan terus terjadi.

Kemungkinan berikutnya adalah sosialisme negara radikal. Dalam skenario ini, negara akan mengambil langkah sepenuhnya untuk melindungi bagian-bagian ekonomi yang memiliki kepentingan hajat hidup masyarakat luas. Kondisi ini memungkinkan adanya perubahan ketentuan produksi yang tidak lagi bergantung pada keinginan pasar. Pendekatan ini dinilai yang paling baik terutama bagi negara yang memiliki sumber daya yang kuat sebab negara dapat mengerahkan sumber daya untuk melindungi masyarakat. Namun, Simon Mair juga memberikan rambu akan adanya risiko otoritarianisme.

Prediksi yang terakhir adalah lahirnya suatu komunitas besar masyarakat yang saling membantu. Simon menggambarkan skenario ini sebagai jalan keluar dari tiga skenario sebelumnya. Dalam skenario ini, negara tidak terlalu banyak berperan, justru individu dan kelompok-kelompok kecil yang menguasainya. Menurut Simon, kondisi ini bisa terjadi sebagai respon atas kegagalan negara dalam menanggapi bencana, ataupun sebagai respon sosial yang pragmatis dan penuh kasih sayang terhadap krisis yang tengah berlangsung. Diharapkan gerakan ini dapat melahirkan suatu struktur demokrasi baru.

Saat ini dunia memang sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Dampak yang ditimbulkan pun terasa hampir di semua lini kehidupan manusia. Namun manusia selalu ada cara untuk mengambil setiap hikmah dari setiap tragedi yang terjadi. Pihak-pihak yang berwenang harus segera dan berhati-hati untuk mengambil keputusan atas segala permasalahan yang dihadapi. Semua rekam jejak sepak terjang menghadapi wabah ini pun harus disimpan dan diarsipkan demi terwujudnya kondisi dunia yang lebih baik di masa depan. (Ping)


(Tulisan ini pernah dikirimkan ke e-mail salah satu situs berita sebagai contoh tulisan dalam rangka melamar posisi jurnalis, tanpa ada syarat dan ketentuan serta perjanjian apapun. Penulis hanya mempostingnya di blog pribadinya sendiri. -Ping)

Comments

Popular posts from this blog

Bidadari Surga: Cintanya adalah Guru Kehidupannya

Cinta, sebuah kata dengan beribu keambiguan. Maka cinta juga akan memiliki beribu makna tiap kali ia diungkapkan. Menurut Wikipedia, cinta adalah suatu emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Cinta juga dapat diartikan sebagai suatu perasaan dalam diri seseorang akibat faktor pembentuknya. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apa pun yang diinginkan objek tersebut. Definisi sederhana di atas akan menjadi pagar untuk memaknai cinta dalam tulisan ini sehingga akan memudahkan untuk menelaah sebuah kisah yang akan dibawa dalam ruang baca kali ini. Ini adalah sebuah kisah dari seorang wanita tegar, dengan latar belakang keluarga yang membuatnya tidak bisa mengenal deng...

[BIDADARI SURGA] Pisah dan Temu: Antonim yang Kait Mengait

Perpisahan dan pertemuan pertama yang dialami setiap manusia adalah hari ketika ia harus pergi dari dunia nyaman, yang hanya ada ia di dalamnya, yang dikelilingi dekapan hangat dan cinta, yang selalu diiringi harapan serta doa. Dunia itu adalah rahim sang ibu. Hari di mana ia harus berpisah dengan saudara kembar ari-ari-nya, sekaligus berjumpa dengan orang-orang yang selama ini mengharapkan kehadirannya, yakni keluarganya. Atau kalimatnya bisa diubah menjadi seperti ini: ia harus berpisah dengan saudaranya agar ia bisa berjumpa dengan orang tuanya. Kurang lebih, begitulah gambaran keterkaitan antara pisah dan temu. Kisah kali ini, datang dari seseorang yang sangat bahagia saat saya menuliskan kisahnya. Bahkan ketika saya mengunggah tulisan ini, ia sedang berlagak menjadi seorang ratu sehari. Mungkin ia sedang dirias, dipakaikan pakaian yang indah, serta dipandang dengan mata berkaca-kaca oleh orang-orang yang dicintainya. Hari ini adalah hari bahagia baginya, puncak saat pisah dan te...

GURU NGAJI MAU DIGAJI? Ujian Berwujud Angin Segar

Sejak kecil, sebagian besar masyarakat muslim di Indonesia sudah mengenal Ustadz atau Ustadzah sebagai guru kedua setelah orang tuanya, sebelum masuk ke sekolah dasar. Orang tua menggantungkan harapan besar ketika menitipkan anak kesayangannya kepada para pengajar ini agar mereka setidaknya tidak buta huruf terhadap petunjuk hidup dari penciptanya. Tentu saja harapan lainnya yang lebih besar adalah agar anaknya bisa memiliki akhlak baik seperti seharusnya diajarkan dalam agama. Sejak dulu pula, sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat bahwa profesi ini bisa dibilang merupakan profesi “akhirat oriented ”. Upah yang diterima tidak cukup untuk memenuhi hasrat bermewah-mewahnya. Sekadar mencukupi kebutuhan harian saja sudah memuaskan hatinya ketika mengingat tabungan di akhir hayat sedang ia kumpulkan setiap harinya. Untuk menampung hasil kesadaran para orang tua terhadap pendidikan rohani anak yang kian meningkat, sebagian besar tenaga pendidik ini mulai membentuk suatu lem...