Skip to main content

[BIDADARI SURGA] Pisah dan Temu: Antonim yang Kait Mengait

Perpisahan dan pertemuan pertama yang dialami setiap manusia adalah hari ketika ia harus pergi dari dunia nyaman, yang hanya ada ia di dalamnya, yang dikelilingi dekapan hangat dan cinta, yang selalu diiringi harapan serta doa. Dunia itu adalah rahim sang ibu. Hari di mana ia harus berpisah dengan saudara kembar ari-ari-nya, sekaligus berjumpa dengan orang-orang yang selama ini mengharapkan kehadirannya, yakni keluarganya. Atau kalimatnya bisa diubah menjadi seperti ini: ia harus berpisah dengan saudaranya agar ia bisa berjumpa dengan orang tuanya. Kurang lebih, begitulah gambaran keterkaitan antara pisah dan temu.

Kisah kali ini, datang dari seseorang yang sangat bahagia saat saya menuliskan kisahnya. Bahkan ketika saya mengunggah tulisan ini, ia sedang berlagak menjadi seorang ratu sehari. Mungkin ia sedang dirias, dipakaikan pakaian yang indah, serta dipandang dengan mata berkaca-kaca oleh orang-orang yang dicintainya. Hari ini adalah hari bahagia baginya, puncak saat pisah dan temu terbesar dalam hidupnya, yang akhirnya ia dapatkan dengan berbagai pisah dan temu sebelumnya.

Ia pernah bercerita, bahwa ia dulu hanyalah seorang gadis biasa dengan dunia penuh warna. Teman sepermainannya adalah ekskul teater. Totalitasnya memancarkan pesona bahkan tanpa disadarinya. Membuatnya populer dan disenangi banyak orang.

Kemudian ia tiba di hari saat ia memutuskan untuk berpisah dengan dunia lamanya. Ia berkeinginan untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik. Setelah perpisahan itu, ia bertemu dengan orang-orang baik di dunianya yang baru. Ia bergabung dengan sebuah organisasi sosial dengan Islam sebagai landasannya. Dan di sanalah ia bertemu dengan seorang yang berpura-pura menjadi sahabat keluh kesahnya.

Kisah wanita di usia beranjak dua puluhan memang tak jauh dari didatangi dan ditinggalkan para lelaki yang sedang serius—ataupun yang pura-pura serius—mencari pendamping hidup. Akibatnya ia melalui beberapa tragedi pisah dan temu. Untung saja ia sudah memiliki seorang sahabat keluh kesah palsu yang senantiasa mau mendengarkan ceritanya. Hingga akhirnya, di titik saat ia berpisah dengan seseorang yang sebelumnya memasuki radarnya, sahabat palsu itupun tiba di titik muaknya. Sahabat palsu itu bilang: “selamat tinggal, kepura-puraan” lalu pergi untuk menemui orang yang selama ini ia bohongi. Di titik ini, gadis itu berpisah dengan orang yang selalu ia ceritakan pada si sahabat palsu, untuk bertemu dengan si sahabat palsu itu sendiri. Resmi, sahabat palsu itu kini bergelar calon sahabat hidup.

Berbagai rintangan dilalui oleh si calon sahabat hidup untuk memenangkan sebuah perlombaan yang hanya ia seorang dirilah pesertanya. Ia mempertaruhkan kisah hidupnya untuk bisa membawa pulang medali restu. Meski tak mudah, si calon sahabat hidup itu berhasil mengatakan selamat tinggal kepada arena perlombaannya untuk bertemu dengan perjuangan baru dalam hidupnya.

Kembali ke kisah si gadis biasa. Kali ini, takdir seolah ingin menegaskan bahwa “rutinitas tetaplah rutinitas”. Pisah dan temu tetap terjadi di sepanjang hidup. Hal ini terjadi ketika sedang menunaikan berbagai persiapan untuk menuju gerbang selamat datang di kehidupan barunya, ternyata perpisahan lainnya mencegat di tengah jalan. Ia harus berpisah dengan orang yang sangat penting dalam hidupnya, yakni ayahanda tercinta. Tentu saja, ini menjadi pukulan tersendiri untuknya beserta keluarga. Rasanya, seperti takdir tak mengizinkan “pertemuan” hadir seorang diri tanpa “perpisahan”. Keduanya harus datang sebagai sebuah paket komplit yang tetap harus dinikmati bagaimanapun rasanya.

Kisah ini membuktikan bahwa pisah dan temu bukanlah sebuah tragedi. Mereka adalah bagian dari keseharian dalam hidup. Sebuah rangkaian rutinitas yang kerap hadir di setiap hari yang kita lalui. Kita berpisah pada sesuatu memang untuk bertemu dengan sesuatu yang lain. Antonim yang saling mengait. Maka siapa bilang pertemuan adalah awal dari perpisahan? Justru sebaliknya, perpisahan adalah sebuah jalan untuk suatu pertemuan.

 

SPECIAL THANKS:

Si Pemilik Kisah, beserta Si Calon Sahabat Hidup. Barakallah, semoga pisah dan temu selanjutnya menjadi jalan terbaik menuju perpisahan terakhir di dunia untuk bertemu kembali di tempat yang sama-sama kita impikan.

Dari saya, Sang Penulis Kerdil.


Comments

Popular posts from this blog

Bidadari Surga: Cintanya adalah Guru Kehidupannya

Cinta, sebuah kata dengan beribu keambiguan. Maka cinta juga akan memiliki beribu makna tiap kali ia diungkapkan. Menurut Wikipedia, cinta adalah suatu emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Cinta juga dapat diartikan sebagai suatu perasaan dalam diri seseorang akibat faktor pembentuknya. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apa pun yang diinginkan objek tersebut. Definisi sederhana di atas akan menjadi pagar untuk memaknai cinta dalam tulisan ini sehingga akan memudahkan untuk menelaah sebuah kisah yang akan dibawa dalam ruang baca kali ini. Ini adalah sebuah kisah dari seorang wanita tegar, dengan latar belakang keluarga yang membuatnya tidak bisa mengenal deng...

GURU NGAJI MAU DIGAJI? Ujian Berwujud Angin Segar

Sejak kecil, sebagian besar masyarakat muslim di Indonesia sudah mengenal Ustadz atau Ustadzah sebagai guru kedua setelah orang tuanya, sebelum masuk ke sekolah dasar. Orang tua menggantungkan harapan besar ketika menitipkan anak kesayangannya kepada para pengajar ini agar mereka setidaknya tidak buta huruf terhadap petunjuk hidup dari penciptanya. Tentu saja harapan lainnya yang lebih besar adalah agar anaknya bisa memiliki akhlak baik seperti seharusnya diajarkan dalam agama. Sejak dulu pula, sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat bahwa profesi ini bisa dibilang merupakan profesi “akhirat oriented ”. Upah yang diterima tidak cukup untuk memenuhi hasrat bermewah-mewahnya. Sekadar mencukupi kebutuhan harian saja sudah memuaskan hatinya ketika mengingat tabungan di akhir hayat sedang ia kumpulkan setiap harinya. Untuk menampung hasil kesadaran para orang tua terhadap pendidikan rohani anak yang kian meningkat, sebagian besar tenaga pendidik ini mulai membentuk suatu lem...