Perpisahan dan pertemuan pertama yang dialami setiap manusia adalah hari ketika
ia harus pergi dari dunia nyaman, yang hanya ada ia di dalamnya, yang
dikelilingi dekapan hangat dan cinta, yang selalu diiringi harapan serta doa. Dunia
itu adalah rahim sang ibu. Hari di mana ia harus berpisah dengan saudara kembar
ari-ari-nya, sekaligus berjumpa dengan orang-orang yang selama ini mengharapkan
kehadirannya, yakni keluarganya. Atau kalimatnya bisa diubah menjadi seperti ini:
ia harus berpisah dengan saudaranya agar ia bisa berjumpa dengan orang tuanya.
Kurang lebih, begitulah gambaran keterkaitan antara pisah dan temu.
Kisah kali ini, datang dari seseorang yang sangat bahagia saat saya
menuliskan kisahnya. Bahkan ketika saya mengunggah tulisan ini, ia sedang
berlagak menjadi seorang ratu sehari. Mungkin ia sedang dirias, dipakaikan
pakaian yang indah, serta dipandang dengan mata berkaca-kaca oleh orang-orang
yang dicintainya. Hari ini adalah hari bahagia baginya, puncak saat pisah dan
temu terbesar dalam hidupnya, yang akhirnya ia dapatkan dengan berbagai pisah
dan temu sebelumnya.
Ia pernah bercerita, bahwa ia dulu hanyalah seorang gadis biasa dengan
dunia penuh warna. Teman sepermainannya adalah ekskul teater. Totalitasnya
memancarkan pesona bahkan tanpa disadarinya. Membuatnya populer dan disenangi
banyak orang.
Kemudian ia tiba di hari saat ia memutuskan untuk berpisah dengan dunia
lamanya. Ia berkeinginan untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik. Setelah
perpisahan itu, ia bertemu dengan orang-orang baik di dunianya yang baru. Ia
bergabung dengan sebuah organisasi sosial dengan Islam sebagai landasannya. Dan
di sanalah ia bertemu dengan seorang yang berpura-pura menjadi sahabat keluh
kesahnya.
Kisah wanita di usia beranjak dua puluhan memang tak jauh dari didatangi
dan ditinggalkan para lelaki yang sedang serius—ataupun yang pura-pura serius—mencari
pendamping hidup. Akibatnya ia melalui beberapa tragedi pisah dan temu. Untung
saja ia sudah memiliki seorang sahabat keluh kesah palsu yang senantiasa mau
mendengarkan ceritanya. Hingga akhirnya, di titik saat ia berpisah dengan
seseorang yang sebelumnya memasuki radarnya, sahabat palsu itupun tiba di titik
muaknya. Sahabat palsu itu bilang: “selamat tinggal, kepura-puraan” lalu pergi
untuk menemui orang yang selama ini ia bohongi. Di titik ini, gadis itu
berpisah dengan orang yang selalu ia ceritakan pada si sahabat palsu, untuk
bertemu dengan si sahabat palsu itu sendiri. Resmi, sahabat palsu itu kini
bergelar calon sahabat hidup.
Berbagai rintangan dilalui oleh si calon sahabat hidup untuk memenangkan
sebuah perlombaan yang hanya ia seorang dirilah pesertanya. Ia mempertaruhkan
kisah hidupnya untuk bisa membawa pulang medali restu. Meski tak mudah, si
calon sahabat hidup itu berhasil mengatakan selamat tinggal kepada arena
perlombaannya untuk bertemu dengan perjuangan baru dalam hidupnya.
Kembali ke kisah si gadis biasa. Kali ini, takdir seolah ingin menegaskan
bahwa “rutinitas tetaplah rutinitas”. Pisah dan temu tetap terjadi di sepanjang
hidup. Hal ini terjadi ketika sedang menunaikan berbagai persiapan untuk menuju
gerbang selamat datang di kehidupan barunya, ternyata perpisahan lainnya
mencegat di tengah jalan. Ia harus berpisah dengan orang yang sangat penting
dalam hidupnya, yakni ayahanda tercinta. Tentu saja, ini menjadi pukulan
tersendiri untuknya beserta keluarga. Rasanya, seperti takdir tak mengizinkan “pertemuan”
hadir seorang diri tanpa “perpisahan”. Keduanya harus datang sebagai sebuah
paket komplit yang tetap harus dinikmati bagaimanapun rasanya.
Kisah ini membuktikan bahwa pisah dan temu bukanlah sebuah tragedi. Mereka
adalah bagian dari keseharian dalam hidup. Sebuah rangkaian rutinitas yang
kerap hadir di setiap hari yang kita lalui. Kita berpisah pada sesuatu memang
untuk bertemu dengan sesuatu yang lain. Antonim yang saling mengait. Maka siapa
bilang pertemuan adalah awal dari perpisahan? Justru sebaliknya, perpisahan
adalah sebuah jalan untuk suatu pertemuan.
SPECIAL THANKS:
Si Pemilik Kisah, beserta Si Calon Sahabat Hidup. Barakallah, semoga pisah
dan temu selanjutnya menjadi jalan terbaik menuju perpisahan terakhir di dunia
untuk bertemu kembali di tempat yang sama-sama kita impikan.
Dari saya, Sang Penulis Kerdil.
Comments
Post a Comment