Skip to main content

GURU NGAJI MAU DIGAJI? Ujian Berwujud Angin Segar


Sejak kecil, sebagian besar masyarakat muslim di Indonesia sudah mengenal Ustadz atau Ustadzah sebagai guru kedua setelah orang tuanya, sebelum masuk ke sekolah dasar. Orang tua menggantungkan harapan besar ketika menitipkan anak kesayangannya kepada para pengajar ini agar mereka setidaknya tidak buta huruf terhadap petunjuk hidup dari penciptanya. Tentu saja harapan lainnya yang lebih besar adalah agar anaknya bisa memiliki akhlak baik seperti seharusnya diajarkan dalam agama.
Sejak dulu pula, sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat bahwa profesi ini bisa dibilang merupakan profesi “akhirat oriented”. Upah yang diterima tidak cukup untuk memenuhi hasrat bermewah-mewahnya. Sekadar mencukupi kebutuhan harian saja sudah memuaskan hatinya ketika mengingat tabungan di akhir hayat sedang ia kumpulkan setiap harinya.
Untuk menampung hasil kesadaran para orang tua terhadap pendidikan rohani anak yang kian meningkat, sebagian besar tenaga pendidik ini mulai membentuk suatu lembaga pendidikan Qur’an ataupun bergabung dengan lembaga yang sudah ada. Dengan adanya wadah ini, maka diperlukan pula beberapa biaya baik operasional lembaga maupun upah pengajarnya. Maka diadakan biaya pendidikan bagi peserta didiknya. Biaya ini pun tidak bisa dipatok sembarangan. Lantaran mindset orang tua belum sepenuhnya berevolusi. Sedikit saja kata “mahal” terucap, anak batal didaftarkan dengan dalih kebutuhan sekolah sudah membuat keluarganya hidup berhemat.
Belakangan ini, angin segar datang menghampiri rumah-rumah guru ngaji di Kota Palembang. Adanya kabar bahwa pemerintah dalam upaya meningkatkan peran guru ngaji di Palembang akan mengadakan insentif per bulan guna membantu kesejahteraan hidupnya. Kabar ini bahkan sudah menyebar ke penjuru telinga masyarakat. Berbagai respon dilontarkan dari berbagai pihak. Pro dan kontra, semua kalangan bersuara.
Tak ada yang salah dari inisiatif ini. Justru ini adalah suatu ide brilian yang mungkin memang bisa meningkatkan peran para pengajar di dunia pendidikan, mungkin. Barangkali sudah hampir satu tahun sejak berhembusnya kabar segar tersebut. Banyak ustadz dan ustadzah masih sibuk mengurus ini itu untuk mengajukan realisasi inisiatif yang sudah terasa seperti janji. Sekalipun tak ada yang tahu pasti kapan terwujudnya.
Memang benar, guru ngaji juga manusia. Punya kebutuhan yang harus dipenuhi. Punya keinginan lahiriyah yang terkadang harus diwujudkan dengan uang. Tapi, apakah itu semua hanya tentang uang? Sepertinya jika memang motivasi seorang pengajar adalah mencari uang, maka profesi ini masuk ke dalam urutan pertama pekerjaan yang harus dijauhi. Alhamdulillah, masih banyak para pejuang Qur’an yang dengan hati yang tulus mendedikasikan dirinya pada sebuah instansi yang membayarnya murah meskipun setiap hari harus menaikkan tekanan darahnya karena menahan marahnya ketika melihat anak didiknya lari ke sana-sini. Bahkan sebagian besar pejuang itu adalah nenek berusia nyaris tujuh puluh tahunan. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat pada mereka.
Selain itu, berita ini seakan menjadi pedang bermata dua bagi guru ngaji itu sendiri. Di satu sisi ini merupakan angin segar yang bisa membuat paru-parunya mengembang. Akan tetapi, di sisi lain justru menjadi ujian paling sulit untuk dilalui. Setelah beberapa kali lulus dari ujian kehidupan serba sederhana, sekarang mereka dihadapkan pada suatu janji yang meskipun tak begitu besar nominalnya, tapi lumayan untuk menambah kesejahteraan hidup keluarganya, yang jika tak hati-hati mampu membengkokkan niatnya. Ia yang terbiasa hidup dengan harapan mengumpulkan pahala surganya, kini jadi bertambah satu lagi harapan yang digantungkan: gaji.
Memang, uang bisa memenuhi kebutuhan setiap harinya. Tapi tidak semua bisa diukur dengan uang. Bahkan sekalipun sulit, nyatanya guru ngaji terlanjur jatuh hati pada dunia yang diperjuangkannya. Menikmati tiap detik sisa hidupnya dengan tawa bahagia melihat santrinya berhasil, dengan marah yang dilontarkan sebagai perwujudan cinta, dan dengan harapan yang selalu ia junjung dalam hatinya bahwa Allah akan selalu menjamin hidupnya bahkan hingga ia tak lagi bisa menginjakkan kaki di kelasnya kelak.
Sekali lagi, inisiatif ini sangat brilian. Niatnya pun sangat mulia. Akan tetapi, apakah tidak ada ide brilian lainnya? Misalnya membakukan sistem pendidikan untuk jenjang TK/TPA. Barangkali program itu bisa membantu para ustadz dan ustadzah untuk mengelola lembaganya serta mengembangkan kualitas SDM yang dimiliki.  Dari sisi para orang tua juga bisa ikut berjuang dengan mendukung program yang diluncurkan para kepala unit di masing-masing TK/TPA, ketimbang ikut pusing memikirkan berapa gaji para pengajarnya (read: kepo). Saat membayar SPP sekolah yang jauh lebih mahal pun tidak pernah memikirkan berapa gaji gurunya, bukan? –Ping

Comments

Popular posts from this blog

Bidadari Surga: Cintanya adalah Guru Kehidupannya

Cinta, sebuah kata dengan beribu keambiguan. Maka cinta juga akan memiliki beribu makna tiap kali ia diungkapkan. Menurut Wikipedia, cinta adalah suatu emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Cinta juga dapat diartikan sebagai suatu perasaan dalam diri seseorang akibat faktor pembentuknya. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apa pun yang diinginkan objek tersebut. Definisi sederhana di atas akan menjadi pagar untuk memaknai cinta dalam tulisan ini sehingga akan memudahkan untuk menelaah sebuah kisah yang akan dibawa dalam ruang baca kali ini. Ini adalah sebuah kisah dari seorang wanita tegar, dengan latar belakang keluarga yang membuatnya tidak bisa mengenal deng...

[BIDADARI SURGA] Pisah dan Temu: Antonim yang Kait Mengait

Perpisahan dan pertemuan pertama yang dialami setiap manusia adalah hari ketika ia harus pergi dari dunia nyaman, yang hanya ada ia di dalamnya, yang dikelilingi dekapan hangat dan cinta, yang selalu diiringi harapan serta doa. Dunia itu adalah rahim sang ibu. Hari di mana ia harus berpisah dengan saudara kembar ari-ari-nya, sekaligus berjumpa dengan orang-orang yang selama ini mengharapkan kehadirannya, yakni keluarganya. Atau kalimatnya bisa diubah menjadi seperti ini: ia harus berpisah dengan saudaranya agar ia bisa berjumpa dengan orang tuanya. Kurang lebih, begitulah gambaran keterkaitan antara pisah dan temu. Kisah kali ini, datang dari seseorang yang sangat bahagia saat saya menuliskan kisahnya. Bahkan ketika saya mengunggah tulisan ini, ia sedang berlagak menjadi seorang ratu sehari. Mungkin ia sedang dirias, dipakaikan pakaian yang indah, serta dipandang dengan mata berkaca-kaca oleh orang-orang yang dicintainya. Hari ini adalah hari bahagia baginya, puncak saat pisah dan te...