Skip to main content

Bidadari Surga: Cintanya adalah Guru Kehidupannya

Cinta, sebuah kata dengan beribu keambiguan. Maka cinta juga akan memiliki beribu makna tiap kali ia diungkapkan.

Menurut Wikipedia, cinta adalah suatu emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Cinta juga dapat diartikan sebagai suatu perasaan dalam diri seseorang akibat faktor pembentuknya. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apa pun yang diinginkan objek tersebut.

Definisi sederhana di atas akan menjadi pagar untuk memaknai cinta dalam tulisan ini sehingga akan memudahkan untuk menelaah sebuah kisah yang akan dibawa dalam ruang baca kali ini.

Ini adalah sebuah kisah dari seorang wanita tegar, dengan latar belakang keluarga yang membuatnya tidak bisa mengenal dengan baik hakikat kehidupan yang dijalaninya. Ibunya meninggal dunia sejak ia kecil, sehingga ayahnya harus menikah lagi. Hingga akhirnya ia bertemu seseorang yang kelak akan menjadi pemicu terbukanya gerbang kehidupan baru baginya. Yang menjadi garis start titik balik hidupnya. Orang yang ditemuinya itu kemudian menjadi pendamping sekaligus pemimpin bagi dirinya.

Semua berawal setelah melahirkan anaknya yang pertama. Lelaki itu mengatakan, "pakailah hijab, karena kini akulah yang menjadi penanggung dosamu". Perintah itu diaminkan langsung tanpa sepatah kata "tapi", meskipun hanya dengan hijab ala kadarnya, hanya sebatas menjulur di dadanya.

Hari demi hari mereka jalani bersama. Titik baliknya waktu itu benar-benar menjadi garis awal hidupnya yang baru. Kehidupan yang penuh dengan lika-liku, demi tertempanya iman dalam dirinya. Mulai dari kesulitan ekonomi yang menyiksanya untuk menahan godaan agar tidak tercebur dalam riba, kondisi kesehatan sang suami yang mulai menimbulkan kekhawatiran, hingga kelahiran anak bungsunya yang harus berbagi nasib dengan virus Rubella. Namun, itu semua justru menjadikannya lebih dekat pada Sang Penciptanya. Ia sangat yakin, bahwa apa yang dijalaninya saat ini adalah jalan yang dipilihkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuknya. Ia sangat yakin, sebab Yang Maha Baik menyayangi dirinya.

Suatu waktu, ia sampai di titik yang ia sebut "hijrah". Ia memanjangkan lagi hijabnya, ia kenakan kaus kakinya, ia bertemu dengan orang-orang baik lainnya. Tapi itu justru membuatnya makin haus akan ilmu karena ia merasa baru mengenal agama di kulitnya saja. Untuk melegakan dahaganya, sang suami selalu mendukungnya untuk ikut majelis-majelis ilmu. Dimana ada kajian, mereka akan pergi menghadirinya. Kemudian ia mendaftarkan anaknya ke sebuah sekolah para penghafal Qur'an agar kelak anaknya bisa menjadi orang yang menolongnya di akhirat. Tak cukup sampai di situ, ia juga ikut terjun aktif di masyarakat dengan bergabung dengan organisasi dakwah. Sehingga ia menjadi seorang aktivis sekalipun sudah sibuk mengurus rumah sambil berjualan guna membantu penghasilan sang suami. Dengan tekad kuatnya, mereka melangkah bersama menuju sebuah keluarga yang lebih baik.

Namun, perjalanan hijrah memang tidak akan selalu mulus. Selayaknya anak sekolah, di mana akan ada masa ujian. Maka kali ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala kembali menguji keimanannya. Lelaki yang telah merubah dirinya, wafat, meninggalkan tiga orang anak, yang ketiganya masih kecil.

Orang-orang di sekitarnya kebanyakan melontarkan pertanyaan yang sama, "bagaimana membesarkan anak-anakmu seorang diri?"
Tapi, perempuan ini hanya memiliki satu keyakinan, namun tertancap sangat kuat, "ada Allah, Sang Pemilik Hidup, yang akan menjamin hidupnya."
Baginya, setiap ujian yang datang adalah pertanda bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala sangat menyayanginya. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memisahkan ia dengan suaminya, sebab Allah Subhanahu wa Ta'ala tau bahwa ia mencintai suaminya karena mereka mencinta Sang Pemilik mereka berdua.

Kisah ini mungkin telah membenarkan teori cinta yang dikemukakan para filsuf ratusan tahun lalu. Ia telah dipertemukan pada sang suami, dengan sebuah ketertarikan, yang kemudian ia menuruti perkataan sang suami untuk mengenakan hijab. Kemudian menyusul rasa kasih sayang, peduli, empati, saling membantu, hingga pengorbanan pun dilakukannya atas dasar cintanya. Kemudian ketika ia harus dipisahkan dengan orang yang sangat ia sayangi, lantas tak membuatnya berputus asa pada keadaan, karena pada hakikatnya apa yang ia cintai bukanlah miliknya, karena pada akhirnya semua cinta akan kembali pada-Nya, Sang Pemilik alam semesta dan segala isinya.

Comments

  1. Banyak definisi cinta yang pernah aku baca tapi tak seindah definisi cintanya. Sebuah kisah yang indah, semoga tetap berlanjut. Ditunggu tulisan berikutnya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

[BIDADARI SURGA] Pisah dan Temu: Antonim yang Kait Mengait

Perpisahan dan pertemuan pertama yang dialami setiap manusia adalah hari ketika ia harus pergi dari dunia nyaman, yang hanya ada ia di dalamnya, yang dikelilingi dekapan hangat dan cinta, yang selalu diiringi harapan serta doa. Dunia itu adalah rahim sang ibu. Hari di mana ia harus berpisah dengan saudara kembar ari-ari-nya, sekaligus berjumpa dengan orang-orang yang selama ini mengharapkan kehadirannya, yakni keluarganya. Atau kalimatnya bisa diubah menjadi seperti ini: ia harus berpisah dengan saudaranya agar ia bisa berjumpa dengan orang tuanya. Kurang lebih, begitulah gambaran keterkaitan antara pisah dan temu. Kisah kali ini, datang dari seseorang yang sangat bahagia saat saya menuliskan kisahnya. Bahkan ketika saya mengunggah tulisan ini, ia sedang berlagak menjadi seorang ratu sehari. Mungkin ia sedang dirias, dipakaikan pakaian yang indah, serta dipandang dengan mata berkaca-kaca oleh orang-orang yang dicintainya. Hari ini adalah hari bahagia baginya, puncak saat pisah dan te...

GURU NGAJI MAU DIGAJI? Ujian Berwujud Angin Segar

Sejak kecil, sebagian besar masyarakat muslim di Indonesia sudah mengenal Ustadz atau Ustadzah sebagai guru kedua setelah orang tuanya, sebelum masuk ke sekolah dasar. Orang tua menggantungkan harapan besar ketika menitipkan anak kesayangannya kepada para pengajar ini agar mereka setidaknya tidak buta huruf terhadap petunjuk hidup dari penciptanya. Tentu saja harapan lainnya yang lebih besar adalah agar anaknya bisa memiliki akhlak baik seperti seharusnya diajarkan dalam agama. Sejak dulu pula, sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat bahwa profesi ini bisa dibilang merupakan profesi “akhirat oriented ”. Upah yang diterima tidak cukup untuk memenuhi hasrat bermewah-mewahnya. Sekadar mencukupi kebutuhan harian saja sudah memuaskan hatinya ketika mengingat tabungan di akhir hayat sedang ia kumpulkan setiap harinya. Untuk menampung hasil kesadaran para orang tua terhadap pendidikan rohani anak yang kian meningkat, sebagian besar tenaga pendidik ini mulai membentuk suatu lem...