Skip to main content

Memaknai Hidup dengan Candaan



Setiap manusia pasti menghadapi “sesuatu” di setiap detik dalam hidupnya. Sesuatu di sini pun bisa dimaknai macam-macam. Ketika seorang bayi menangis karena haus, mungkin bagi orang dewasa itu hanyalah hal biasa—”ah, wajar saja’, pikirnya. Tapi belum tentu bagi si bayi. Bisa jadi ia sedang dalam keadaan yang benar-benar gawat di mana ia benar-benar membutuhkan air karena tenggorokannya yang kering kerontang ataupun perutnya yang pedih karena lapar. Belum lagi jika dilihat dari sisi orang-orang yang harus menghadapi realita “susu itu mahal”, yang ketika bayinya menangis hatinya tersayat karena susu di kaleng tinggal tersisa satu sendok saja.
Memang. Hidup dan yang menjalani hidup memang begitu. Terkesan tidak adil padahal Allah sudah menggariskan segala macam bentuk anugerah pada setiap makhluk-Nya jauh sebelum individu itu dilahirkan ke dunia. Hidup terasa menghakimi diri padahal diri sendirilah yang menghakimi atas hidup yang telah jelas-jelas bergelimang nikmat. Tapi begitulah manusia. Yang pengetahuannya tentang nikmat hanya terbatas pada sesuatu yang bisa memenuhi kebutuhan dunianya. Yang melakukan suatu amalan dengan motivasi janji Allah akan melancarkan rezekinya padahal hikmah sesungguhnya lebih dari sekadar itu. Yang khawatir tiap kali menghitung kebutuhannya setiap bulan padahal ada Allah yang senantiasa menjamin kebutuhannya di tiap tarikan napasnya.
Belum lagi mereka yang memotivasi dirinya dengan kalimat “Jangan Cepat Berpuas Diri” ataupun ”Pantang Pulang Sebelum Menang”. Memang benar, manusia mana bisa maju jika mudah berpuas diri dengan keadaannya yang sekarang. Setidaknya harus ada proses kemajuan diri seiring berkurangnya sisa umurnya di dunia. Hanya saja terkadang motto hidup seperti ini diterapkan di seluruh aspek kehidupannya sehingga yang muncul justru sikap tamak dan rakus terhadap ambisinya sendiri. Memang benar, jika mudah menyerah manusia tidak akan bisa meraih apa yang ia usahakan. Sayangnya motivasi semacam ini membuat orang-orang terlalu fokus pada ikhtiar, tak jarang lupa pada doa dan rasa ikhlas mana kala ikhtiar itu ternyata tidak diaminkan oleh Sang Maha Menentukan.
Lucu, memang. Realita terkadang bisa dijadikan sekadar candaan. Tapi sebagian lainnya memandang hidup lebih dari serangkaian ujian yang menyiksa. Ada yang mati-matian berusaha dengan segenap pikiran dan kemampuan yang dimilikinya, tapi tetap akan gagal jika Allah menghendakinya untuk melanjutkan perjuangan. Ada juga yang mengerjakan sesuatu ala kadarnya, memulai dan berhenti hanya ketika ia ingin, bersenda dengan kenyataan hidupnya, tapi ia berhasil meraih prestasi yang sebelumnya tak pernah ia duga karena memang Penciptanya menghendakinya untuk memperoleh itu. Kembali lagi, yang mana yang akan dipilih sebagai landasan motivasi harian.
Intinya, perbedaan yang bertolak belakang ini selalu terjadi di kehidupan manusia itu sendiri di dunia. Orang-orang yang sukses adalah mereka yang berhasil keluar hidup-hidup dari kubangan penderitaan yang terkadang berasal dari hati dan pikirannya sendiri. Orang-orang yang berhasil adalah mereka yang mampu mengikhlaskan segala sesuatu yang dihadapkan padanya, ridho dengan keputusan yang Allah pilihkan untuknya, dan selalu bersyukur apapun yang dihasilkan oleh ikhtiarnya. Mereka tidak akan pernah memprediksi dirinya tak bisa karena di hatinya selalu terpatri bahwa ada Allah yang selalu mencukupi kebutuhannya, bahwa Allah tidak akan meninggalkan dirinya sekalipun ia telah tenggelam di dasar lautan. Ia hanya perlu yakin dan berteriak lantang pada dirinya “aku bisa!”
Sebuah hadist dalam Kitab Riyadhus Sholihin berisi:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, ia berkata bahwa Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai prasangka hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat sendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6970 dan Muslim no. 2675]
Jika dipikirkan dengan segala keterbatasan kemampuan berpikir manusia, Allah terkesan sedang menyemangati hambanya agar senantiasa berbaik sangka. Dengan begitu Dia akan menghadiahkan apa yang ia prasangkakan itu.
Sedangkan dalam firman-Nya yang lain:
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim: 7)
Dalam firman ini pun Allah menyuruh manusia dengan perintah yang bisa diterima logika. Dengan segala keterbatasan manusia, Allah memerintahkannya untuk bersyukur. Tanpa perlu memikirkan rumus ataupun tips dan trik penambah rezeki, manusia hanya cukup yakin bahwa hidupnya sudah terjamin tak peduli berapa tahun kontrak hidupnya di dunia ini.
Bisa jadi hal ini terasa seperti candaan belaka bagi orang-orang yang tidak memiliki keyakinan pada Tuhan yang menciptakan dunia dan segala isinya. Logika dangkal tanpa iman seperti itu mungkin beranggapan bahwa pada intinya agama hanya mengatur agar manusia hidup dengan teratur dan mampu naik kelas menjadi agen kebaikan. Sehingga sekalipun mereka tak percaya hari akhir dan Sang Penciptanya tetap menjalani hidupnya dengan landasan logika-logika kebaikan yang sederhana semacam itu.
Lantas bagaimana bagi orang-orang yang hafal dan mengaku menyakini rukun iman yang enam itu?
Tak jarang dari mereka yang berlari mengejar matahari. Belum lagi ia lupa berdoa saat berangkat dari garis start nya. Maka jangankan mimpi meraih matahari akan ia dapatkan, tetesan keringatnya ketika berlari saja belum tentu dinilai sebagai penambah amal kebaikannya. (Ping)

Comments

  1. Bagus sekali ceritanya..
    Hidup itu harus menggunakan iman dan ilmu. Karena iman dan ilmu saling berkaitan..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Bidadari Surga: Cintanya adalah Guru Kehidupannya

Cinta, sebuah kata dengan beribu keambiguan. Maka cinta juga akan memiliki beribu makna tiap kali ia diungkapkan. Menurut Wikipedia, cinta adalah suatu emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Cinta juga dapat diartikan sebagai suatu perasaan dalam diri seseorang akibat faktor pembentuknya. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apa pun yang diinginkan objek tersebut. Definisi sederhana di atas akan menjadi pagar untuk memaknai cinta dalam tulisan ini sehingga akan memudahkan untuk menelaah sebuah kisah yang akan dibawa dalam ruang baca kali ini. Ini adalah sebuah kisah dari seorang wanita tegar, dengan latar belakang keluarga yang membuatnya tidak bisa mengenal deng...

[BIDADARI SURGA] Pisah dan Temu: Antonim yang Kait Mengait

Perpisahan dan pertemuan pertama yang dialami setiap manusia adalah hari ketika ia harus pergi dari dunia nyaman, yang hanya ada ia di dalamnya, yang dikelilingi dekapan hangat dan cinta, yang selalu diiringi harapan serta doa. Dunia itu adalah rahim sang ibu. Hari di mana ia harus berpisah dengan saudara kembar ari-ari-nya, sekaligus berjumpa dengan orang-orang yang selama ini mengharapkan kehadirannya, yakni keluarganya. Atau kalimatnya bisa diubah menjadi seperti ini: ia harus berpisah dengan saudaranya agar ia bisa berjumpa dengan orang tuanya. Kurang lebih, begitulah gambaran keterkaitan antara pisah dan temu. Kisah kali ini, datang dari seseorang yang sangat bahagia saat saya menuliskan kisahnya. Bahkan ketika saya mengunggah tulisan ini, ia sedang berlagak menjadi seorang ratu sehari. Mungkin ia sedang dirias, dipakaikan pakaian yang indah, serta dipandang dengan mata berkaca-kaca oleh orang-orang yang dicintainya. Hari ini adalah hari bahagia baginya, puncak saat pisah dan te...

GURU NGAJI MAU DIGAJI? Ujian Berwujud Angin Segar

Sejak kecil, sebagian besar masyarakat muslim di Indonesia sudah mengenal Ustadz atau Ustadzah sebagai guru kedua setelah orang tuanya, sebelum masuk ke sekolah dasar. Orang tua menggantungkan harapan besar ketika menitipkan anak kesayangannya kepada para pengajar ini agar mereka setidaknya tidak buta huruf terhadap petunjuk hidup dari penciptanya. Tentu saja harapan lainnya yang lebih besar adalah agar anaknya bisa memiliki akhlak baik seperti seharusnya diajarkan dalam agama. Sejak dulu pula, sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat bahwa profesi ini bisa dibilang merupakan profesi “akhirat oriented ”. Upah yang diterima tidak cukup untuk memenuhi hasrat bermewah-mewahnya. Sekadar mencukupi kebutuhan harian saja sudah memuaskan hatinya ketika mengingat tabungan di akhir hayat sedang ia kumpulkan setiap harinya. Untuk menampung hasil kesadaran para orang tua terhadap pendidikan rohani anak yang kian meningkat, sebagian besar tenaga pendidik ini mulai membentuk suatu lem...