Setiap manusia pasti menghadapi “sesuatu” di setiap detik dalam hidupnya. Sesuatu di sini pun bisa dimaknai macam-macam. Ketika seorang bayi menangis karena haus, mungkin bagi orang dewasa itu hanyalah hal biasa—”ah, wajar saja’, pikirnya. Tapi belum tentu bagi si bayi. Bisa jadi ia sedang dalam keadaan yang benar-benar gawat di mana ia benar-benar membutuhkan air karena tenggorokannya yang kering kerontang ataupun perutnya yang pedih karena lapar. Belum lagi jika dilihat dari sisi orang-orang yang harus menghadapi realita “susu itu mahal”, yang ketika bayinya menangis hatinya tersayat karena susu di kaleng tinggal tersisa satu sendok saja. Memang. Hidup dan yang menjalani hidup memang begitu. Terkesan tidak adil padahal Allah sudah menggariskan segala macam bentuk anugerah pada setiap makhluk-Nya jauh sebelum individu itu dilahirkan ke dunia. Hidup terasa menghakimi diri padahal diri sendirilah yang menghakimi atas hidup yang telah jelas-jelas bergelimang nikmat. Tapi begitulah ...
Jejak Ketersesatan Si Kerdil di Muka Bumi